TUGAS 2C
NEMATODA USUS
1. Ascaris lumbricoides
a.
Klasifikasi
Phylum : Nemathelminthes
Class : Nematoda
Subclass :
Secernemtea
Ordo : Ascoridida
Super famili : Ascoridciidea
Genus :
Ascaris
Species
: Ascaris lumbricoides
b.
Siklus Hidup
Cacing dewasa dalam ususà Telur dalam fesesà
Berkembang menjadi bentuk infektif di tanahàTelur ditelanà
Menetas dalam usus dalam bentuk larvaàLarva menembus larva, bermigrasi
melalui aliran darah ke jantung dan alveoli darahàMasuk ke dalam trakea dan
tertelan kembali.
(Staff Pengajar Departemen Parasitologi, 2008)
c. Pencegahan dan Pengendalian
Dianjurkan
agar buang air besar tidak pada sembarangan tempat serta mencuci tangan sebelum
makan, memasak makanan, sayuran, dan air dengan baik. (Natadisastra, 2005).
Untuk lebih
amannya, mencuci sayuran dengan air matang atau air mengalir khusus untuk sayuran
dan buah-buahan (Astuti dan Siti, 2010).
d.
Gambaran parasit dan kelainannya.

2.
Trichuris trichiura
a.
Klasifikasi
Phylum :Nemathelminthes
Class :Nematoda
Subclass :Adenophorea
Ordo :Enoplida
Super famili :Ttichinelloidea
Genus :Trichuris
Species : Trichuris trichiura
Phylum :Nemathelminthes
Class :Nematoda
Subclass :Adenophorea
Ordo :Enoplida
Super famili :Ttichinelloidea
Genus :Trichuris
Species : Trichuris trichiura
(Staff Pengajar
Departemen Parasitologi, 2008)
b.
Siklus Hidup
Telur dalam tinja (bentuk dignostik) àStadium 2 selà Telur berembrio
(bentuk infektif)àLarva menetas dalam ususàMenembus dan tumbh dalam mukosaà Cacing dewasa dalam sekum
(Entjang, 2011)
c.
Gambaran parasit dan kelainannya.

NEMATODA JARINGAN
1. Wuchereria bancrofti
- Hospes utama : manusia
- Hospes intermediet/perantara : nyamuk
- Penyakit yang disebabkannya : Filariasis bancrofti
- Terdapat di Asia tenggara
a.
Gambaran parasit dan kelainannya.
a. Siklus hidupnya : :
Mikrofilaria => Nyamuk => Berkembang menjadi LARVA => infektif => Masuk ke dalam tubuh manusia => Filaria dewasa
Mikrofilaria => Nyamuk => Berkembang menjadi LARVA => infektif => Masuk ke dalam tubuh manusia => Filaria dewasa
b.
Penyakit yang disebabkan :
- Pada stadium akut : limfadenitis, limfadenitis retrograd, dan elefantiasis
- Dapat mengenai alat genital
c.
Epidemiologi :
- Banyak ditemukan di pedesaan dan perkotaan
- Di Indonesia banyak ditemukan di pedesaan
- Vektor di perkotaan : nyamuk Culex
- Vektor di pedesaan : nyamuk Anopheles sp dan Aedes sp.
- Prevalensi tinggi pada masyarakat dengan sosio ekonomi rendah
2. Brugia malayi
ü Brugia malayi à hospes utama : manusia dan mamalia
(kera, anjing, kucing)
ü Brugia timori àHanya pada manusia
ü Penyakit
yang disebabkan disebut Filariasis Malayi dan Filariasis Timori
ü Cacing
dewasa hidung di saluran dan kelenjar limfe.
ü Terdapat
di negara-negara Asia
ü Khusus
Indonesia Brugia timori ditemukan
di Pulau Timor, Rote, Flores, Alor, dan Kepulauan NTT
a.
Silus hidup :
- Nokturna dan nonperiodik
- Yang hidup pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris
- Yang hidup pada manusia dan mamalia ditularkan oleh nyamuk Mansonia Sp.
- Masa hidup larva dalam tubuh vektor 10 hari
- Menjadi dewasa dalam tubuh hospes utama dalam 3 bulan
b.
Penyakit yang
disebabkan :
- Limfangitis retrograd
- Elefantiasis
- Organ yang paling sering terkena : Kelenjar limfe tungkai, kelenjar limfe ketiak, dan kelenjar limfe lengan
c.
Faktor yang berperan pada penyakit ini:
- Sanitasi
- Kebiasaan
- Sosial ekonomi
KELAS CESTODA
1. Taenia saginata (cacing
pita sapi)
- Penyakit : taeniasis saginata
- Hospes : manusia
- Hospes perantara : sapi, kerbau dll
- Distribusi geografik : kosmopolit
- Habitat : usus halus
a.
Siklus hidup
Proglotid gravid (100.000 telur)
aktif keluar telur (embrio heksakan) tertelan HP (sapi) larva
(sistiserkus bovis) termakan manusia skoleks keluar melekat pada mukosa
usus halus dewasa (8-10 minggu)
b.
Gejala klinik
Disebabkan cacing dewasa :
bersifat ringan (ulu hati sakit, perut tidak enak,mual & muntah, pusing)
bersifat berat (apendisitis karena proglotid masuk apendiks, obstruksi
usus ileus)
c.
Diagnosis :
- telur / proglotid dalam tinja
- proglotid keluar spontan
- telur dalam usap anus
·
Gambaran parasit dan kelainannya.
2. Taenia solium (cacing
pita babi)
- Penyakit : taeniasis solium (karena cacing dewasa) sistiserkosis (karena larvanya)
- Hospes : manusia
- Hospes perantara : babi & manusia
- Distribusi geografik : kosmopolit
- Habitat : usus halus
a.
Morfologi
- cacing dewasa : ukuran 2-7 m, skoleks Ø 1 mm dgn batil isap dan kait2, proglotid gravid ukuran 11 x 15 mm dengan uterus 7-12 pasang, produksi telur 30.000 – 50.000
- telur : bentuk bulat dengan dinding membentuk gambaran radier, ukuran 30 x 40µ, isi : onkosfer (embrio heksakan)
- larva : bentuk oval, terbentuk dalam jaringan HP disebut sistiserkus selulose
b. Siklus hidup
·
proglotid
gravid (100.000 telur) keluar bersama tinja.
·
telur tertelan manusia
sistiserkosis di otot,mata, otak, kulit dll
·
telur tertelan HP (babi) , larva
(sistiserkus selulose) , termakan manusia , skoleks keluar , melekat
pada mukosa usus halus , dewasa (8-10 minggu)
c.
Diagnosis :
Ø
Taeniasis solium : menemukan telur
/proglotid dalam tinja
Ø
Sistiserkosis : CT scan, MRI,
ELISA,Western Blot, PCR. Coproantigen
d. Gambaran
parasit dan kelainannya.
1) Fasciola
hepatica
a.
Taxonomi
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Platyhelminthes
Kelas
: Trematoda
Ordo
: Echinostomida
Genus
: Fasciola
Spesies
: Fasciola hepatica
Fasciola hepatica merupakan salah satu
spesies cacing yang merupakan parasit dalam tubuh manusia. Fasciola
tergolong dalam kelas Trematoda, filum Platyhelmintes.
Hospes cacing ini adalah
kambing dan sapi, dan kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Fasciola
hepatica merupakan penyakit fascioliasis. Fascioliasis banyak
ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan negara-negara sekitar Laut Tengah
b. Hospes
definitif
·
Hospes definitif :
Manusia, kambing, sapi dan biri – biri
·
Hospes perantara I : Keong air / siput
·
Hospes perantara II : Tumbuhan air
d. Siklus hidup
Penjelasan Singkat
Telur à larva mirasidium masuk
ke dalam tubuh siput Lymnea à sporokista à berkembang
menjadi larva (II): redia à
larva (III): serkaria yang berekor,
kemudian keluar dari tubuh keong à
kista yang menempel pada tumbuhan air (terutama selada air à Nasturqium officinale) kemudian
termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) à
masuk ke tubuh dan menjadi cacing dewasa
menyebabkan Fascioliasis.
e. Gambaran
parasit dan kelainannya.


f. Pencegahan
Tidak memakan ikan mentah. Apabila mengkonsumsi
harus sudah dimasak secara sempurna dan memakai cuka khusus
yang dapat mematikan parasit, sehingga bisa
dihindari terinfeksi oleh metaserkaria dalam ikan.
Pengobatan sempurna pada penderita dengan prazikuantel.
TREMATODA
DARAH
- Scistosoma japonicum
a. Taxonomi
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Platyhelminthes
Class
: Trematoda
Subclass
: Digenea
Order
: Strigeidida
Genus
: Schistosoma
Species
: S.
japonicum
Nama penyakit
: skistosomiasis japonica, demam keong
Hospes definitif :
manusia, anjing, kucing, rusa, dll
Hospes perantara : keong air
tawar
b. Siklus Hidup
Siklus hidup Schistosoma japonicum dan Schistosoma
mansoni sangat mirip. Secara singkat, telur dari parasit dilepaskan dalam
tinja dan jika mengalami kontak dengan air mereka menetas menjadi larva yang berenang
bebas, yang disebut mirasidium. Larva kemudian harus menginfeksi keong dari
genus Oncomelania seperti jenis Lindoensis oncomelania dalam satu
atau dua hari. Di dalam keong, larva mengalami reproduksi aseksual melalui
serangkaian tahapan yang disebut sporokista. Setelah tahap reproduksi aseksual,
serkaria yang dihasilkan dalam jumlah besar, yang kemudian meninggalkan
keong dan harus menginfeksi inang vertebrata yang cocok. Setelah serkaria
menembus kulit tuan rumah kehilangan ekornya dan menjadi sebuah schistosomule,
cacing kemudian bermigrasi melalui sirkulasi, berakhir di pembuluh darah
mesenterika dimana mereka kawin dan mulai bertelur. Setiap pasangan desposits
sekitar 1500 – 3500 telur per hari dalam dinding usus. Telur menyusup melalui
jaringan dan terdapat dalam tinja.
c. Gambaran
dan kelainan parasit
d. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan
menemukan telur di dalam tinja atau jaringan biopsi hati dan biopsi rektum.
Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi
dapat dipakai adalah COPT (Circumoval precipitin test), IHT (Indirect
Haemagglutation test), CFT (Complement fixation test), FAT (Fluorescent
antibody test) dan ELISA (Enzyme linked immuno sorbent assay).
e. Pencegahan
Ø Memberi
penyuluhan kepada masyarakat cara-cara penularan dan cara pemberantasan
penyakit ini.
Ø Memperbaiki
cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong dengan membersihkan
badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan dan mengalirkan air.
Ø Untuk
mencegah pemajanan dengan air yang terkontaminasi (contoh : gunakan sepatu bot
karet).
Ø Untuk
mengurangi penetrasi serkaria setelah terpajan dengan air yang terkontaminsai
dalam waktu singkat atau secara tidak sengaja yaitu kulit yang basah dengan air
yang diduga terinfeksi dikeringkan segera dengan handuk.
2) Schistosoma
mansoni
- A. Taxonomi
Kingdom
: Animalia
Phylum :Platyhelminthes
Class :Trematoda
Subclass :Digenea
Order :Strigeidida
Genus
: Schistosoma
Species
: S. Mansoni
a. Nama
penyakit : skistosomiasis usus
Hospes
definitif : manusia, kera, baboon
Hospes
perantara : keong air tawar
b. Patologi dan Gejala Klinis
Kelainan dan gejala yang ditimbulkannya kira-kira
sama seperti pada S. japonicum, akan tetapi lebih ringan. Pada penyakit
ini splenomegali dilaporkan dapat menjadi berat sekali.
c. Diagnosis
Sama seperti pada S. japonicum yaitu
menemukan telur dalam tinja

https://beequinn.wordpress.com/nursing/mikrobiologi-dan-parasitologi/cestoda-cacing-pita/
TUGAS 2C
NEMATODA USUS
1. Ascaris lumbricoides
a.
Klasifikasi
Phylum : Nemathelminthes
Class : Nematoda
Subclass :
Secernemtea
Ordo : Ascoridida
Super famili : Ascoridciidea
Genus :
Ascaris
Species
: Ascaris lumbricoides
b.
Siklus Hidup
Cacing dewasa dalam ususà Telur dalam fesesà
Berkembang menjadi bentuk infektif di tanahàTelur ditelanà
Menetas dalam usus dalam bentuk larvaàLarva menembus larva, bermigrasi
melalui aliran darah ke jantung dan alveoli darahàMasuk ke dalam trakea dan
tertelan kembali.
(Staff Pengajar Departemen Parasitologi, 2008)
c. Pencegahan dan Pengendalian
Dianjurkan
agar buang air besar tidak pada sembarangan tempat serta mencuci tangan sebelum
makan, memasak makanan, sayuran, dan air dengan baik. (Natadisastra, 2005).
Untuk lebih
amannya, mencuci sayuran dengan air matang atau air mengalir khusus untuk sayuran
dan buah-buahan (Astuti dan Siti, 2010).
d.
Gambaran parasit dan kelainannya.

2.
Trichuris trichiura
a.
Klasifikasi
Phylum :Nemathelminthes
Class :Nematoda
Subclass :Adenophorea
Ordo :Enoplida
Super famili :Ttichinelloidea
Genus :Trichuris
Species : Trichuris trichiura
Phylum :Nemathelminthes
Class :Nematoda
Subclass :Adenophorea
Ordo :Enoplida
Super famili :Ttichinelloidea
Genus :Trichuris
Species : Trichuris trichiura
(Staff Pengajar
Departemen Parasitologi, 2008)
b.
Siklus Hidup
Telur dalam tinja (bentuk dignostik) àStadium 2 selà Telur berembrio
(bentuk infektif)àLarva menetas dalam ususàMenembus dan tumbh dalam mukosaà Cacing dewasa dalam sekum
(Entjang, 2011)
c.
Gambaran parasit dan kelainannya.

NEMATODA JARINGAN
1. Wuchereria bancrofti
- Hospes utama : manusia
- Hospes intermediet/perantara : nyamuk
- Penyakit yang disebabkannya : Filariasis bancrofti
- Terdapat di Asia tenggara
a.
Gambaran parasit dan kelainannya.
a. Siklus hidupnya : :
Mikrofilaria => Nyamuk => Berkembang menjadi LARVA => infektif => Masuk ke dalam tubuh manusia => Filaria dewasa
Mikrofilaria => Nyamuk => Berkembang menjadi LARVA => infektif => Masuk ke dalam tubuh manusia => Filaria dewasa
b.
Penyakit yang disebabkan :
- Pada stadium akut : limfadenitis, limfadenitis retrograd, dan elefantiasis
- Dapat mengenai alat genital
c.
Epidemiologi :
- Banyak ditemukan di pedesaan dan perkotaan
- Di Indonesia banyak ditemukan di pedesaan
- Vektor di perkotaan : nyamuk Culex
- Vektor di pedesaan : nyamuk Anopheles sp dan Aedes sp.
- Prevalensi tinggi pada masyarakat dengan sosio ekonomi rendah
2. Brugia malayi
ü Brugia malayi à hospes utama : manusia dan mamalia
(kera, anjing, kucing)
ü Brugia timori àHanya pada manusia
ü Penyakit
yang disebabkan disebut Filariasis Malayi dan Filariasis Timori
ü Cacing
dewasa hidung di saluran dan kelenjar limfe.
ü Terdapat
di negara-negara Asia
ü Khusus
Indonesia Brugia timori ditemukan
di Pulau Timor, Rote, Flores, Alor, dan Kepulauan NTT
a.
Silus hidup :
- Nokturna dan nonperiodik
- Yang hidup pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris
- Yang hidup pada manusia dan mamalia ditularkan oleh nyamuk Mansonia Sp.
- Masa hidup larva dalam tubuh vektor 10 hari
- Menjadi dewasa dalam tubuh hospes utama dalam 3 bulan
b.
Penyakit yang
disebabkan :
- Limfangitis retrograd
- Elefantiasis
- Organ yang paling sering terkena : Kelenjar limfe tungkai, kelenjar limfe ketiak, dan kelenjar limfe lengan
c.
Faktor yang berperan pada penyakit ini:
- Sanitasi
- Kebiasaan
- Sosial ekonomi
KELAS CESTODA
1. Taenia saginata (cacing
pita sapi)
- Penyakit : taeniasis saginata
- Hospes : manusia
- Hospes perantara : sapi, kerbau dll
- Distribusi geografik : kosmopolit
- Habitat : usus halus
a.
Siklus hidup
Proglotid gravid (100.000 telur)
aktif keluar telur (embrio heksakan) tertelan HP (sapi) larva
(sistiserkus bovis) termakan manusia skoleks keluar melekat pada mukosa
usus halus dewasa (8-10 minggu)
b.
Gejala klinik
Disebabkan cacing dewasa :
bersifat ringan (ulu hati sakit, perut tidak enak,mual & muntah, pusing)
bersifat berat (apendisitis karena proglotid masuk apendiks, obstruksi
usus ileus)
c.
Diagnosis :
- telur / proglotid dalam tinja
- proglotid keluar spontan
- telur dalam usap anus
·
Gambaran parasit dan kelainannya.
2. Taenia solium (cacing
pita babi)
- Penyakit : taeniasis solium (karena cacing dewasa) sistiserkosis (karena larvanya)
- Hospes : manusia
- Hospes perantara : babi & manusia
- Distribusi geografik : kosmopolit
- Habitat : usus halus
a.
Morfologi
- cacing dewasa : ukuran 2-7 m, skoleks Ø 1 mm dgn batil isap dan kait2, proglotid gravid ukuran 11 x 15 mm dengan uterus 7-12 pasang, produksi telur 30.000 – 50.000
- telur : bentuk bulat dengan dinding membentuk gambaran radier, ukuran 30 x 40µ, isi : onkosfer (embrio heksakan)
- larva : bentuk oval, terbentuk dalam jaringan HP disebut sistiserkus selulose
b. Siklus hidup
·
proglotid
gravid (100.000 telur) keluar bersama tinja.
·
telur tertelan manusia
sistiserkosis di otot,mata, otak, kulit dll
·
telur tertelan HP (babi) , larva
(sistiserkus selulose) , termakan manusia , skoleks keluar , melekat
pada mukosa usus halus , dewasa (8-10 minggu)
c.
Diagnosis :
Ø
Taeniasis solium : menemukan telur
/proglotid dalam tinja
Ø
Sistiserkosis : CT scan, MRI,
ELISA,Western Blot, PCR. Coproantigen
d. Gambaran
parasit dan kelainannya.
1) Fasciola
hepatica
a.
Taxonomi
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Platyhelminthes
Kelas
: Trematoda
Ordo
: Echinostomida
Genus
: Fasciola
Spesies
: Fasciola hepatica
Fasciola hepatica merupakan salah satu
spesies cacing yang merupakan parasit dalam tubuh manusia. Fasciola
tergolong dalam kelas Trematoda, filum Platyhelmintes.
Hospes cacing ini adalah
kambing dan sapi, dan kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Fasciola
hepatica merupakan penyakit fascioliasis. Fascioliasis banyak
ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan negara-negara sekitar Laut Tengah
b. Hospes
definitif
·
Hospes definitif :
Manusia, kambing, sapi dan biri – biri
·
Hospes perantara I : Keong air / siput
·
Hospes perantara II : Tumbuhan air
d. Siklus hidup
Penjelasan Singkat
Telur à larva mirasidium masuk
ke dalam tubuh siput Lymnea à sporokista à berkembang
menjadi larva (II): redia à
larva (III): serkaria yang berekor,
kemudian keluar dari tubuh keong à
kista yang menempel pada tumbuhan air (terutama selada air à Nasturqium officinale) kemudian
termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) à
masuk ke tubuh dan menjadi cacing dewasa
menyebabkan Fascioliasis.
e. Gambaran
parasit dan kelainannya.


f. Pencegahan
Tidak memakan ikan mentah. Apabila mengkonsumsi
harus sudah dimasak secara sempurna dan memakai cuka khusus
yang dapat mematikan parasit, sehingga bisa
dihindari terinfeksi oleh metaserkaria dalam ikan.
Pengobatan sempurna pada penderita dengan prazikuantel.
TREMATODA
DARAH
- Scistosoma japonicum
a. Taxonomi
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Platyhelminthes
Class
: Trematoda
Subclass
: Digenea
Order
: Strigeidida
Genus
: Schistosoma
Species
: S.
japonicum
Nama penyakit
: skistosomiasis japonica, demam keong
Hospes definitif :
manusia, anjing, kucing, rusa, dll
Hospes perantara : keong air
tawar
b. Siklus Hidup
Siklus hidup Schistosoma japonicum dan Schistosoma
mansoni sangat mirip. Secara singkat, telur dari parasit dilepaskan dalam
tinja dan jika mengalami kontak dengan air mereka menetas menjadi larva yang berenang
bebas, yang disebut mirasidium. Larva kemudian harus menginfeksi keong dari
genus Oncomelania seperti jenis Lindoensis oncomelania dalam satu
atau dua hari. Di dalam keong, larva mengalami reproduksi aseksual melalui
serangkaian tahapan yang disebut sporokista. Setelah tahap reproduksi aseksual,
serkaria yang dihasilkan dalam jumlah besar, yang kemudian meninggalkan
keong dan harus menginfeksi inang vertebrata yang cocok. Setelah serkaria
menembus kulit tuan rumah kehilangan ekornya dan menjadi sebuah schistosomule,
cacing kemudian bermigrasi melalui sirkulasi, berakhir di pembuluh darah
mesenterika dimana mereka kawin dan mulai bertelur. Setiap pasangan desposits
sekitar 1500 – 3500 telur per hari dalam dinding usus. Telur menyusup melalui
jaringan dan terdapat dalam tinja.
c. Gambaran
dan kelainan parasit
d. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan
menemukan telur di dalam tinja atau jaringan biopsi hati dan biopsi rektum.
Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi
dapat dipakai adalah COPT (Circumoval precipitin test), IHT (Indirect
Haemagglutation test), CFT (Complement fixation test), FAT (Fluorescent
antibody test) dan ELISA (Enzyme linked immuno sorbent assay).
e. Pencegahan
Ø Memberi
penyuluhan kepada masyarakat cara-cara penularan dan cara pemberantasan
penyakit ini.
Ø Memperbaiki
cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong dengan membersihkan
badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan dan mengalirkan air.
Ø Untuk
mencegah pemajanan dengan air yang terkontaminasi (contoh : gunakan sepatu bot
karet).
Ø Untuk
mengurangi penetrasi serkaria setelah terpajan dengan air yang terkontaminsai
dalam waktu singkat atau secara tidak sengaja yaitu kulit yang basah dengan air
yang diduga terinfeksi dikeringkan segera dengan handuk.
2) Schistosoma
mansoni
- A. Taxonomi
Kingdom
: Animalia
Phylum :Platyhelminthes
Class :Trematoda
Subclass :Digenea
Order :Strigeidida
Genus
: Schistosoma
Species
: S. Mansoni
a. Nama
penyakit : skistosomiasis usus
Hospes
definitif : manusia, kera, baboon
Hospes
perantara : keong air tawar
b. Patologi dan Gejala Klinis
Kelainan dan gejala yang ditimbulkannya kira-kira
sama seperti pada S. japonicum, akan tetapi lebih ringan. Pada penyakit
ini splenomegali dilaporkan dapat menjadi berat sekali.
c. Diagnosis
Sama seperti pada S. japonicum yaitu
menemukan telur dalam tinja

https://beequinn.wordpress.com/nursing/mikrobiologi-dan-parasitologi/cestoda-cacing-pita/






Tidak ada komentar:
Posting Komentar