Jumat, 22 Mei 2015

AJAIB !! saat OPERASI "RIBUAN Cacing Pita Keluar" dari Dalam Tubuh !!



TRICHURIS. Video



Ascariasis



[TUGAS 2C]



TUGAS 2C
NEMATODA  USUS
1.      Ascaris lumbricoides



a.     Klasifikasi
Phylum                 : Nemathelminthes
Class         : Nematoda
Subclass                : Secernemtea
Ordo   : Ascoridida
Super famili          : Ascoridciidea
Genus                    : Ascaris
Species                  : Ascaris lumbricoides
b.      Siklus Hidup
Cacing dewasa dalam ususà   Telur dalam fesesà Berkembang menjadi bentuk infektif di tanahàTelur ditelanà  Menetas dalam usus dalam bentuk larvaàLarva menembus larva, bermigrasi melalui aliran darah ke jantung dan alveoli darahàMasuk ke dalam trakea dan tertelan kembali.
(Staff Pengajar Departemen Parasitologi, 2008)
c.  Pencegahan dan Pengendalian
Dianjurkan agar buang air besar tidak pada sembarangan tempat serta mencuci tangan sebelum makan, memasak makanan, sayuran, dan air dengan baik. (Natadisastra, 2005).
Untuk lebih amannya, mencuci sayuran dengan air matang atau air mengalir khusus untuk sayuran dan buah-buahan (Astuti dan Siti, 2010).
d.      Gambaran parasit dan kelainannya.
ascaris.jpg

2.             Trichuris trichiura

a.       Klasifikasi
Phylum            :Nemathelminthes
Class                :Nematoda
Subclass          :Adenophorea
Ordo                :Enoplida
Super famili     :Ttichinelloidea
Genus              :Trichuris
Species                        : Trichuris trichiura
(Staff Pengajar Departemen Parasitologi, 2008)
b.      Siklus Hidup
Telur dalam tinja (bentuk dignostik) àStadium 2 selà Telur berembrio (bentuk infektif)àLarva menetas dalam ususàMenembus dan tumbh dalam mukosaà  Cacing dewasa dalam sekum
(Entjang, 2011)
c.       Gambaran parasit dan kelainannya.
tt.jpg



NEMATODA JARINGAN

1.      Wuchereria bancrofti
  • Hospes utama                          : manusia
  • Hospes intermediet/perantara             : nyamuk
  • Penyakit yang disebabkannya             : Filariasis bancrofti
  • Terdapat di Asia tenggara
a.       Gambaran parasit dan kelainannya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0EQ5cXb8lCPwnH0I5f7t96QVq9vQR9C_wOKb7uIyOOShvZ5NKETFnf6IdQGg_gv7TwI4DdCU69bsdk9XOd6_sEf3lfctrdObwmCidwJ8hdfD_UQjbtPZjYrZb-GziZOJkEY_yrObHm069/s1600/ukuranfilariawb738.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFeOFQa__tZ94NA7QDiLDS58ntcr6cJegALXENWrX7wbbaeNo9ekpEDgSq6iioqfWUpTrLDfJYMdnuqUe5xLN_0J36RtoeV6YqK-6gDMHxi1WPAmN9VIO0hikeIsYsGsFfEXPU9KU3f3_h/s1600/wuchebanc949.jpg

a.       Siklus hidupnya : :
Mikrofilaria => Nyamuk => Berkembang menjadi LARVA => infektif => Masuk ke dalam tubuh manusia => Filaria dewasa
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaJGwRTZ9PqjKuOjNY5ETb_uT6S1G4ISH1vCJnnoc-I0UON28iWh79UXy2sGG2HtVoqGe0yt8tHPFa1rlcls-_3H8X_eD8STjWt8B2KmvwoliB1PS-ZVWrYaFlnYQz7i59oEfvUtIpxkIn/s1600/filarial_cycle23.jpg

b.      Penyakit yang disebabkan :
  • Pada stadium akut : limfadenitis,  limfadenitis retrograd, dan elefantiasis
  • Dapat mengenai alat genital
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_asoyT5m1RbZh8U5lNJZiQxbRRzRrKxbk00imuEztXrQ4Awtykx4HXdAfCsU3JI2nRAPG0AzKF5llz5WHh9YwB1-bAWs3FiB0gme6uqqMRG0u4ZtFR_gkC0-xLPt6Yb6Vu2Sp-gAX5oQC/s1600/wuchelephF.gif
Limfadenitis pada Wuchereria bancrofti sampai ke alat genital
c.       Epidemiologi :
  • Banyak ditemukan di pedesaan dan perkotaan
  • Di Indonesia banyak ditemukan di pedesaan
  • Vektor di perkotaan : nyamuk Culex
  • Vektor di pedesaan : nyamuk Anopheles sp dan Aedes sp.
  • Prevalensi tinggi pada masyarakat dengan sosio ekonomi rendah
2.      Brugia malayi

ü  Brugia malayi à hospes utama : manusia dan mamalia (kera, anjing, kucing)
ü  Brugia timori àHanya pada manusia
ü  Penyakit yang disebabkan disebut Filariasis Malayi dan Filariasis Timori
ü  Cacing dewasa hidung di saluran dan kelenjar limfe.
ü  Terdapat di negara-negara Asia
ü  Khusus Indonesia Brugia timori ditemukan di  Pulau Timor, Rote, Flores, Alor, dan Kepulauan NTT
a.       Silus hidup :
  • Nokturna dan nonperiodik
  • Yang hidup pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris
  • Yang hidup pada manusia dan mamalia ditularkan oleh nyamuk Mansonia Sp.
  • Masa hidup larva dalam tubuh vektor 10 hari
  • Menjadi dewasa dalam tubuh hospes utama dalam 3 bulan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj40s16Jgl9OFQVFvily8DVpeN-dpIUmsuY8FW6Jqe0kXf773ZUUhb2BOnk4ORR8-Rc1AoXYIp_OjFG2NDadggaeF_B0nnh3J4epKkeWOvJq-sjpxWgLgdw1-MSLJWnPrFFm_Zfc3bovfHq/s1600/b_malayi_lifecycle.gif
Siklus hidup Brugia malayi

b.      Penyakit yang disebabkan :
  • Limfangitis retrograd
  • Elefantiasis
  • Organ yang paling sering terkena : Kelenjar limfe tungkai, kelenjar limfe ketiak, dan kelenjar limfe lengan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGhHeaWEorXZ2UnaEYVhrMXjaZZ8F79zdLpBA1WbEcnMYuzxNAzKQJDFh-9U9xaq0eijs1L_Wx-50BXpY0iUUeR61lMqJejPUnjzKdwWTaQcSMBJ5ZQWriKufLvbVVo2NhYidCqeWUoPTZ/s1600/elephant.jpg
Limfadenitis (elefantiasis) pada tungkai oleh Brugia malayi
c.       Faktor yang berperan pada penyakit ini:
  1. Sanitasi
  2. Kebiasaan
  3. Sosial ekonomi

KELAS CESTODA
1.      Taenia saginata (cacing pita sapi)
  • Penyakit                      : taeniasis saginata
  • Hospes                        : manusia
  • Hospes perantara         : sapi, kerbau dll
  • Distribusi geografik    : kosmopolit
  • Habitat                        : usus halus
a.       Siklus hidup
Proglotid gravid (100.000 telur) aktif keluar  telur (embrio heksakan) tertelan HP (sapi)  larva (sistiserkus bovis) termakan manusia skoleks keluar  melekat pada mukosa usus halus  dewasa (8-10 minggu)
b.      Gejala klinik
Disebabkan cacing dewasa : bersifat ringan (ulu hati sakit, perut tidak enak,mual & muntah, pusing) bersifat berat (apendisitis karena proglotid masuk apendiks, obstruksi usus ileus)
c.       Diagnosis :
    • telur / proglotid dalam tinja
    • proglotid keluar spontan
    • telur dalam usap anus
·         Gambaran parasit dan kelainannya.

2.      Taenia solium (cacing pita babi)
  • Penyakit                      : taeniasis solium (karena cacing  dewasa) sistiserkosis (karena larvanya)
  • Hospes                        manusia
  • Hospes perantara     babi & manusia
  • Distribusi geografik    kosmopolit
  • Habitat            usus halus
a.       Morfologi
  • cacing dewasa : ukuran 2-7 m, skoleks Ø 1 mm dgn batil isap dan  kait2, proglotid gravid ukuran 11 x 15 mm dengan uterus 7-12 pasang, produksi telur 30.000 – 50.000
  • telur : bentuk bulat dengan dinding membentuk gambaran radier, ukuran 30 x 40µ, isi : onkosfer (embrio heksakan)
  • larva : bentuk oval, terbentuk dalam jaringan HP disebut sistiserkus selulose
b.      Siklus hidup
·       proglotid gravid (100.000 telur) keluar bersama tinja.
·       telur tertelan manusia  sistiserkosis di otot,mata, otak, kulit dll
·       telur tertelan HP (babi) , larva (sistiserkus selulose) , termakan manusia , skoleks keluar , melekat pada mukosa usus halus , dewasa (8-10 minggu)
c.       Diagnosis :
Ø  Taeniasis solium : menemukan telur /proglotid dalam tinja
Ø  Sistiserkosis : CT scan, MRI, ELISA,Western Blot, PCR. Coproantigen
d.      Gambaran parasit dan kelainannya.
1)      Fasciola hepatica
a.         Taxonomi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Platyhelminthes
Kelas               : Trematoda
Ordo                : Echinostomida
Genus              : Fasciola
Spesies             : Fasciola hepatica
Fasciola hepatica merupakan salah satu spesies cacing yang merupakan parasit dalam tubuh manusia. Fasciola tergolong dalam kelas Trematoda, filum Platyhelmintes.
Hospes cacing ini adalah kambing dan sapi, dan kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Fasciola hepatica merupakan penyakit fascioliasis. Fascioliasis banyak ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan negara-negara sekitar Laut Tengah
b.    Hospes definitif
·         Hospes definitif      : Manusia, kambing, sapi dan biri – biri
·         Hospes perantara I  : Keong air / siput
·         Hospes perantara II : Tumbuhan air
d. Siklus hidup
Penjelasan Singkat
Telur à larva mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea à  sporokista  à  berkembang menjadi larva (II): redia  à  larva (III): serkaria yang berekor, kemudian keluar dari tubuh keong  à kista yang menempel pada tumbuhan air (terutama selada air  à Nasturqium officinale) kemudian termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) à  masuk ke tubuh dan menjadi cacing dewasa menyebabkan Fascioliasis.

e.       Gambaran parasit dan kelainannya.
fc.jpgfclidahkaki.jpg

f.       Pencegahan
Tidak memakan ikan mentah. Apabila mengkonsumsi harus sudah dimasak secara sempurna dan memakai cuka khusus yang dapat mematikan parasit, sehingga bisa dihindari terinfeksi oleh metaserkaria dalam ikan. Pengobatan sempurna pada penderita dengan prazikuantel.

TREMATODA DARAH
  1. Scistosoma japonicum
a.       Taxonomi
Kingdom            : Animalia
Phylum               : Platyhelminthes
Class                  : Trematoda
Subclass             : Digenea
Order                 : Strigeidida
Genus                 : Schistosoma
Species               : S. japonicum

Nama penyakit       : skistosomiasis japonica, demam keong
Hospes definitif      : manusia, anjing, kucing, rusa, dll
Hospes perantara    : keong air tawar
b.      Siklus Hidup
Siklus hidup Schistosoma japonicum dan Schistosoma mansoni sangat mirip. Secara singkat, telur dari parasit dilepaskan dalam tinja dan jika mengalami kontak dengan air mereka menetas menjadi larva yang berenang bebas, yang disebut mirasidium. Larva kemudian harus menginfeksi keong dari genus Oncomelania seperti jenis Lindoensis oncomelania dalam satu atau dua hari. Di dalam keong, larva mengalami reproduksi aseksual melalui serangkaian tahapan yang disebut sporokista. Setelah tahap reproduksi aseksual, serkaria  yang dihasilkan dalam jumlah besar, yang kemudian meninggalkan keong dan harus menginfeksi inang vertebrata yang cocok. Setelah serkaria menembus kulit tuan rumah kehilangan ekornya dan menjadi sebuah schistosomule, cacing kemudian bermigrasi melalui sirkulasi, berakhir di pembuluh darah mesenterika dimana mereka kawin dan mulai bertelur. Setiap pasangan desposits sekitar 1500 – 3500 telur per hari dalam dinding usus. Telur menyusup melalui jaringan dan terdapat dalam tinja.
c.       Gambaran dan kelainan parasit
d.      Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi dapat dipakai adalah COPT (Circumoval precipitin test), IHT (Indirect Haemagglutation test), CFT (Complement fixation test), FAT (Fluorescent antibody test) dan ELISA (Enzyme linked immuno sorbent assay).
e.       Pencegahan
Ø  Memberi penyuluhan kepada masyarakat cara-cara penularan dan cara pemberantasan penyakit ini.
Ø  Memperbaiki cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong dengan membersihkan badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan dan mengalirkan air.
Ø  Untuk mencegah pemajanan dengan air yang terkontaminasi (contoh : gunakan sepatu bot karet).
Ø  Untuk mengurangi penetrasi serkaria setelah terpajan dengan air yang terkontaminsai dalam waktu singkat atau secara tidak sengaja yaitu kulit yang basah dengan air yang diduga terinfeksi dikeringkan segera dengan handuk.
2)      Schistosoma mansoni

  1. A.    Taxonomi
Kingdom          : Animalia
Phylum            :Platyhelminthes
Class                :Trematoda
Subclass          :Digenea
Order               :Strigeidida
Genus             : Schistosoma
Species             : S. Mansoni
a.       Nama penyakit       : skistosomiasis usus
Hospes definitif      : manusia, kera, baboon
Hospes perantara    : keong air tawar
b.      Patologi dan Gejala Klinis
Kelainan dan gejala yang ditimbulkannya kira-kira sama seperti pada S. japonicum, akan tetapi lebih ringan. Pada penyakit ini splenomegali dilaporkan dapat menjadi berat sekali.
c.         Diagnosis
Sama seperti pada S. japonicum yaitu menemukan telur dalam tinja
https://classconnection.s3.amazonaws.com/846/flashcards/195846/jpg/schis1329252234814.jpg

https://beequinn.wordpress.com/nursing/mikrobiologi-dan-parasitologi/cestoda-cacing-pita/


TUGAS 2C
NEMATODA  USUS
1.      Ascaris lumbricoides



a.     Klasifikasi
Phylum                 : Nemathelminthes
Class         : Nematoda
Subclass                : Secernemtea
Ordo   : Ascoridida
Super famili          : Ascoridciidea
Genus                    : Ascaris
Species                  : Ascaris lumbricoides
b.      Siklus Hidup
Cacing dewasa dalam ususà   Telur dalam fesesà Berkembang menjadi bentuk infektif di tanahàTelur ditelanà  Menetas dalam usus dalam bentuk larvaàLarva menembus larva, bermigrasi melalui aliran darah ke jantung dan alveoli darahàMasuk ke dalam trakea dan tertelan kembali.
(Staff Pengajar Departemen Parasitologi, 2008)
c.  Pencegahan dan Pengendalian
Dianjurkan agar buang air besar tidak pada sembarangan tempat serta mencuci tangan sebelum makan, memasak makanan, sayuran, dan air dengan baik. (Natadisastra, 2005).
Untuk lebih amannya, mencuci sayuran dengan air matang atau air mengalir khusus untuk sayuran dan buah-buahan (Astuti dan Siti, 2010).
d.      Gambaran parasit dan kelainannya.
ascaris.jpg

2.             Trichuris trichiura

a.       Klasifikasi
Phylum            :Nemathelminthes
Class                :Nematoda
Subclass          :Adenophorea
Ordo                :Enoplida
Super famili     :Ttichinelloidea
Genus              :Trichuris
Species                        : Trichuris trichiura
(Staff Pengajar Departemen Parasitologi, 2008)
b.      Siklus Hidup
Telur dalam tinja (bentuk dignostik) àStadium 2 selà Telur berembrio (bentuk infektif)àLarva menetas dalam ususàMenembus dan tumbh dalam mukosaà  Cacing dewasa dalam sekum
(Entjang, 2011)
c.       Gambaran parasit dan kelainannya.
tt.jpg



NEMATODA JARINGAN

1.      Wuchereria bancrofti
  • Hospes utama                          : manusia
  • Hospes intermediet/perantara             : nyamuk
  • Penyakit yang disebabkannya             : Filariasis bancrofti
  • Terdapat di Asia tenggara
a.       Gambaran parasit dan kelainannya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh0EQ5cXb8lCPwnH0I5f7t96QVq9vQR9C_wOKb7uIyOOShvZ5NKETFnf6IdQGg_gv7TwI4DdCU69bsdk9XOd6_sEf3lfctrdObwmCidwJ8hdfD_UQjbtPZjYrZb-GziZOJkEY_yrObHm069/s1600/ukuranfilariawb738.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFeOFQa__tZ94NA7QDiLDS58ntcr6cJegALXENWrX7wbbaeNo9ekpEDgSq6iioqfWUpTrLDfJYMdnuqUe5xLN_0J36RtoeV6YqK-6gDMHxi1WPAmN9VIO0hikeIsYsGsFfEXPU9KU3f3_h/s1600/wuchebanc949.jpg

a.       Siklus hidupnya : :
Mikrofilaria => Nyamuk => Berkembang menjadi LARVA => infektif => Masuk ke dalam tubuh manusia => Filaria dewasa
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjaJGwRTZ9PqjKuOjNY5ETb_uT6S1G4ISH1vCJnnoc-I0UON28iWh79UXy2sGG2HtVoqGe0yt8tHPFa1rlcls-_3H8X_eD8STjWt8B2KmvwoliB1PS-ZVWrYaFlnYQz7i59oEfvUtIpxkIn/s1600/filarial_cycle23.jpg

b.      Penyakit yang disebabkan :
  • Pada stadium akut : limfadenitis,  limfadenitis retrograd, dan elefantiasis
  • Dapat mengenai alat genital
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi_asoyT5m1RbZh8U5lNJZiQxbRRzRrKxbk00imuEztXrQ4Awtykx4HXdAfCsU3JI2nRAPG0AzKF5llz5WHh9YwB1-bAWs3FiB0gme6uqqMRG0u4ZtFR_gkC0-xLPt6Yb6Vu2Sp-gAX5oQC/s1600/wuchelephF.gif
Limfadenitis pada Wuchereria bancrofti sampai ke alat genital
c.       Epidemiologi :
  • Banyak ditemukan di pedesaan dan perkotaan
  • Di Indonesia banyak ditemukan di pedesaan
  • Vektor di perkotaan : nyamuk Culex
  • Vektor di pedesaan : nyamuk Anopheles sp dan Aedes sp.
  • Prevalensi tinggi pada masyarakat dengan sosio ekonomi rendah
2.      Brugia malayi

ü  Brugia malayi à hospes utama : manusia dan mamalia (kera, anjing, kucing)
ü  Brugia timori àHanya pada manusia
ü  Penyakit yang disebabkan disebut Filariasis Malayi dan Filariasis Timori
ü  Cacing dewasa hidung di saluran dan kelenjar limfe.
ü  Terdapat di negara-negara Asia
ü  Khusus Indonesia Brugia timori ditemukan di  Pulau Timor, Rote, Flores, Alor, dan Kepulauan NTT
a.       Silus hidup :
  • Nokturna dan nonperiodik
  • Yang hidup pada manusia ditularkan oleh nyamuk Anopheles barbirostris
  • Yang hidup pada manusia dan mamalia ditularkan oleh nyamuk Mansonia Sp.
  • Masa hidup larva dalam tubuh vektor 10 hari
  • Menjadi dewasa dalam tubuh hospes utama dalam 3 bulan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj40s16Jgl9OFQVFvily8DVpeN-dpIUmsuY8FW6Jqe0kXf773ZUUhb2BOnk4ORR8-Rc1AoXYIp_OjFG2NDadggaeF_B0nnh3J4epKkeWOvJq-sjpxWgLgdw1-MSLJWnPrFFm_Zfc3bovfHq/s1600/b_malayi_lifecycle.gif
Siklus hidup Brugia malayi

b.      Penyakit yang disebabkan :
  • Limfangitis retrograd
  • Elefantiasis
  • Organ yang paling sering terkena : Kelenjar limfe tungkai, kelenjar limfe ketiak, dan kelenjar limfe lengan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGhHeaWEorXZ2UnaEYVhrMXjaZZ8F79zdLpBA1WbEcnMYuzxNAzKQJDFh-9U9xaq0eijs1L_Wx-50BXpY0iUUeR61lMqJejPUnjzKdwWTaQcSMBJ5ZQWriKufLvbVVo2NhYidCqeWUoPTZ/s1600/elephant.jpg
Limfadenitis (elefantiasis) pada tungkai oleh Brugia malayi
c.       Faktor yang berperan pada penyakit ini:
  1. Sanitasi
  2. Kebiasaan
  3. Sosial ekonomi

KELAS CESTODA
1.      Taenia saginata (cacing pita sapi)
  • Penyakit                      : taeniasis saginata
  • Hospes                        : manusia
  • Hospes perantara         : sapi, kerbau dll
  • Distribusi geografik    : kosmopolit
  • Habitat                        : usus halus
a.       Siklus hidup
Proglotid gravid (100.000 telur) aktif keluar  telur (embrio heksakan) tertelan HP (sapi)  larva (sistiserkus bovis) termakan manusia skoleks keluar  melekat pada mukosa usus halus  dewasa (8-10 minggu)
b.      Gejala klinik
Disebabkan cacing dewasa : bersifat ringan (ulu hati sakit, perut tidak enak,mual & muntah, pusing) bersifat berat (apendisitis karena proglotid masuk apendiks, obstruksi usus ileus)
c.       Diagnosis :
    • telur / proglotid dalam tinja
    • proglotid keluar spontan
    • telur dalam usap anus
·         Gambaran parasit dan kelainannya.

2.      Taenia solium (cacing pita babi)
  • Penyakit                      : taeniasis solium (karena cacing  dewasa) sistiserkosis (karena larvanya)
  • Hospes                        manusia
  • Hospes perantara     babi & manusia
  • Distribusi geografik    kosmopolit
  • Habitat            usus halus
a.       Morfologi
  • cacing dewasa : ukuran 2-7 m, skoleks Ø 1 mm dgn batil isap dan  kait2, proglotid gravid ukuran 11 x 15 mm dengan uterus 7-12 pasang, produksi telur 30.000 – 50.000
  • telur : bentuk bulat dengan dinding membentuk gambaran radier, ukuran 30 x 40µ, isi : onkosfer (embrio heksakan)
  • larva : bentuk oval, terbentuk dalam jaringan HP disebut sistiserkus selulose
b.      Siklus hidup
·       proglotid gravid (100.000 telur) keluar bersama tinja.
·       telur tertelan manusia  sistiserkosis di otot,mata, otak, kulit dll
·       telur tertelan HP (babi) , larva (sistiserkus selulose) , termakan manusia , skoleks keluar , melekat pada mukosa usus halus , dewasa (8-10 minggu)
c.       Diagnosis :
Ø  Taeniasis solium : menemukan telur /proglotid dalam tinja
Ø  Sistiserkosis : CT scan, MRI, ELISA,Western Blot, PCR. Coproantigen
d.      Gambaran parasit dan kelainannya.
1)      Fasciola hepatica
a.         Taxonomi
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Platyhelminthes
Kelas               : Trematoda
Ordo                : Echinostomida
Genus              : Fasciola
Spesies             : Fasciola hepatica
Fasciola hepatica merupakan salah satu spesies cacing yang merupakan parasit dalam tubuh manusia. Fasciola tergolong dalam kelas Trematoda, filum Platyhelmintes.
Hospes cacing ini adalah kambing dan sapi, dan kadang-kadang parasit ini ditemukan pada manusia. Fasciola hepatica merupakan penyakit fascioliasis. Fascioliasis banyak ditemukan di negara-negara Amerika Latin dan negara-negara sekitar Laut Tengah
b.    Hospes definitif
·         Hospes definitif      : Manusia, kambing, sapi dan biri – biri
·         Hospes perantara I  : Keong air / siput
·         Hospes perantara II : Tumbuhan air
d. Siklus hidup
Penjelasan Singkat
Telur à larva mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea à  sporokista  à  berkembang menjadi larva (II): redia  à  larva (III): serkaria yang berekor, kemudian keluar dari tubuh keong  à kista yang menempel pada tumbuhan air (terutama selada air  à Nasturqium officinale) kemudian termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang, apabila memakan selada air) à  masuk ke tubuh dan menjadi cacing dewasa menyebabkan Fascioliasis.

e.       Gambaran parasit dan kelainannya.
fc.jpgfclidahkaki.jpg

f.       Pencegahan
Tidak memakan ikan mentah. Apabila mengkonsumsi harus sudah dimasak secara sempurna dan memakai cuka khusus yang dapat mematikan parasit, sehingga bisa dihindari terinfeksi oleh metaserkaria dalam ikan. Pengobatan sempurna pada penderita dengan prazikuantel.

TREMATODA DARAH
  1. Scistosoma japonicum
a.       Taxonomi
Kingdom            : Animalia
Phylum               : Platyhelminthes
Class                  : Trematoda
Subclass             : Digenea
Order                 : Strigeidida
Genus                 : Schistosoma
Species               : S. japonicum

Nama penyakit       : skistosomiasis japonica, demam keong
Hospes definitif      : manusia, anjing, kucing, rusa, dll
Hospes perantara    : keong air tawar
b.      Siklus Hidup
Siklus hidup Schistosoma japonicum dan Schistosoma mansoni sangat mirip. Secara singkat, telur dari parasit dilepaskan dalam tinja dan jika mengalami kontak dengan air mereka menetas menjadi larva yang berenang bebas, yang disebut mirasidium. Larva kemudian harus menginfeksi keong dari genus Oncomelania seperti jenis Lindoensis oncomelania dalam satu atau dua hari. Di dalam keong, larva mengalami reproduksi aseksual melalui serangkaian tahapan yang disebut sporokista. Setelah tahap reproduksi aseksual, serkaria  yang dihasilkan dalam jumlah besar, yang kemudian meninggalkan keong dan harus menginfeksi inang vertebrata yang cocok. Setelah serkaria menembus kulit tuan rumah kehilangan ekornya dan menjadi sebuah schistosomule, cacing kemudian bermigrasi melalui sirkulasi, berakhir di pembuluh darah mesenterika dimana mereka kawin dan mulai bertelur. Setiap pasangan desposits sekitar 1500 – 3500 telur per hari dalam dinding usus. Telur menyusup melalui jaringan dan terdapat dalam tinja.
c.       Gambaran dan kelainan parasit
d.      Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau jaringan biopsi hati dan biopsi rektum. Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi dapat dipakai adalah COPT (Circumoval precipitin test), IHT (Indirect Haemagglutation test), CFT (Complement fixation test), FAT (Fluorescent antibody test) dan ELISA (Enzyme linked immuno sorbent assay).
e.       Pencegahan
Ø  Memberi penyuluhan kepada masyarakat cara-cara penularan dan cara pemberantasan penyakit ini.
Ø  Memperbaiki cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong dengan membersihkan badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan dan mengalirkan air.
Ø  Untuk mencegah pemajanan dengan air yang terkontaminasi (contoh : gunakan sepatu bot karet).
Ø  Untuk mengurangi penetrasi serkaria setelah terpajan dengan air yang terkontaminsai dalam waktu singkat atau secara tidak sengaja yaitu kulit yang basah dengan air yang diduga terinfeksi dikeringkan segera dengan handuk.
2)      Schistosoma mansoni

  1. A.    Taxonomi
Kingdom          : Animalia
Phylum            :Platyhelminthes
Class                :Trematoda
Subclass          :Digenea
Order               :Strigeidida
Genus             : Schistosoma
Species             : S. Mansoni
a.       Nama penyakit       : skistosomiasis usus
Hospes definitif      : manusia, kera, baboon
Hospes perantara    : keong air tawar
b.      Patologi dan Gejala Klinis
Kelainan dan gejala yang ditimbulkannya kira-kira sama seperti pada S. japonicum, akan tetapi lebih ringan. Pada penyakit ini splenomegali dilaporkan dapat menjadi berat sekali.
c.         Diagnosis
Sama seperti pada S. japonicum yaitu menemukan telur dalam tinja
https://classconnection.s3.amazonaws.com/846/flashcards/195846/jpg/schis1329252234814.jpg

https://beequinn.wordpress.com/nursing/mikrobiologi-dan-parasitologi/cestoda-cacing-pita/